Teknik Pembuatan Bio-nanokomposit


Pembuatan bio-nanokomposit merupakan salah satu solusi untuk dapat mengatasi kelemahan-kelemahan polimer biodegradable ini dan membuka peluang penggunaannya yang lebih luas.Secara umum pembuatan bio-nanokomposit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu teknik pencampuran langsung (Direct Mixing) biopolimer dengan bahan pengisi nano serta teknik in-situ polymerization. Pada Gambar 1 diilustrasikan penyiapan bio-nanokomposit berbasis Poly (lactic acid) (PLA) dengan bahan pengisi nanopartikel ZnO (NP-ZnO) dengan metode pencampuran langsung dan dengan teknik in-situ polymerization.  Pada pencampuran langsung, bahan pengisi nano ditambahkan pada larutan biopolimer PLA dan setelah diperoleh campuran yang homogen dilakukan pencetakan dan penguapan solvent sehingga terbentuk lembaran tipis (film) PLA/NP-ZnO.  Pada pencampuran dengan teknik in-situ polymerization, nanopartikel ZnO didispersikan dalam L-Asam Laktat (monomer PLA) selanjutnya dilakukan reaksi polimerisasi sehingga akan diperoleh komposite PLA/NP-ZnO. Dari aspek kepraktisan, teknik pencampuran langsung akan lebih mudah diadopsi oleh industri pengemasan pangan.

Selanjutnya dapat dibaca di Foodreview Indonesia edisi Oktober 2017

Artikel Lainnya

  • Nov 17, 2017

    Strategi Peningkatan Produktivitas Gula Dalam Negeri

    Salah satu permasalahan dalam industri gula dalam negeri adalah tingginya konsumsi energi serta mesin dan peralatan yang kurang memadai. General Manager Integrated Casetech Consultant Pvt. Ltd., Ramit Gupta menambahkan bahwa industri gula Indonesia saat ini menghasilkan kualitas gula yang kurang bagus. ...

  • Nov 16, 2017

    Tingkat Konsumsi Daging Ayam di Indonesia

    Produk daging ayam merupakan sumber protein hewani yang relatif lebih murah dibanding sumber protein hewani lainnya. Hal ini menjadi salah satu faktor tingginya partisipasi konsumen terhadap produk ini.  ...

  • Nov 15, 2017

    Program Manajemen Risiko untuk Produk Pangan Steril Komersial

    Industri pangan steril komersial diwajibkan menerapkan PMR karena jenis pangan tersebut merupakan kelompok pangan yang dengan risiko tinggi mengalami cemaran, terutama mikrobia.  ...

  • Nov 14, 2017

    Prinsip ke-10 Desain Saniter Peralatan dan Mesin untuk Industri Pangan

    Prinsip ke-10 ini merupakan rangkuman dari prinsip-prinsip 1 sampai 9 yang sebelumnya telah dibahas.  Jika prinsip-prinsip tersebut diikuti dan dilakukan dengan baik, maka prinsip ke-10 ini akan dapat dipenuhi dengan baik.  ...

  • Nov 13, 2017

    Perubahan Komponen Flavor Selama Fermentasi Kakao

    Fermentasi biji kakao dimulai dengan pembelahan biji kakao yang sudah masak dan isinya dikumpulkan dalam bak kayu. Kemudian dilakukan fermentasi yang berjalan selama 5 hari untuk jenis Forastero dan 3 hari untuk jenis kakao Edel. Proses fermentasi dimulai dengan menutupi biji kakao selama 2 hari pertama supaya terjadi reaksi anearobik di mana pada akhirnya terjadi asam asetat. Selanjutnya asam asetat akan masuk ke dalam biji kakao dan terjadi reaksi aerobik sampai selesai fermentasi. ...